Membongkar-bongkar Jejak Tentara AS Hilang Era Perang Dunia II di Papua

Jakarta

Kunjungan Menhan RI Prabowo Subianto ke Amerika Serikat melahirkan kesepakatan untuk pencarian tentara AS yang hilang di RI saat Perang Dunia II. Adapun kesepakatan pencarian jejak tentara GANDAR di Papua.

Lawatan kerja Prabowo di Negeri Pakcik Sam dilakukan pada 15-19 Oktober. Dalam kunjungan itu, Prabowo bertemu dengan Menhan Amerika Serikat (AS) Mark T Esper di Pentagon, Washington, AS.

“Untuk memulai kembali pekerjaannya di Indonesia untuk memulihkan sisa-sisa personel GANDAR yang hilang di Indonesia semasa Perang Dunia II, ” demikian keterangan dari laman resmi Kementerian Pertahanan AS yang dikirim oleh juru bicara Prabowo, Dahnil Anzar Simanjuntak, Sabtu (17/10).

“Kedua pemimpin ini menyatakan simpati kepada mereka yang terkena COVID-19 dalam Amerika Serikat dan Indonesia, ” sambung pernyataan dari website itu.

Selain itu, pertemuan Prabowo dan Esper membahas pertahanan bilateral dan keamanan maritim. Prabowo mengungkap pentingnya keterlibatan militer di semua tingkatan pertahanan negara. Prabowo pula menyampaikan penghargaan atas dukungan AS terkait modernisasi pertahanan Indonesia.

Di Indonesia, peneliti Lembaga Arkeologi Papua Hari Suroto menghamparkan jejak perang pasukan AS & Jepang di Papua. Hari menjelaskan pasukan Amerika Serikat di bawah pimpinan Jenderal Douglas Mac Arthur menjadikan Sentani sebagai pangkalan terbesar pasukan Amerika.

“Satu-satunya wilayah Indonesia yang menjadi bukti pertempuran langsung antara pasukan Amerika dengan Jepang pada Perang Dunia II atau disebut juga Konflik Pasifik adalah Papua, ” sekapur Hari, Senin (19/10/2020).

Hari mengatakan, pada zaman itu, banyak tentara AS yang mati, termasuk pasukan Jepang yang membela Sentani. Kota Jayapura, yang masa itu dikenal dengan sebutan provinsi Hollandia, menjadi ajang perebutan kurun Jepang dan AS.

Ketika itu, memang Jepang menghaki Hollandia, lalu membuat tiga pelabuhan udara di Sentani. Namun, Jepang kesimpulannya dikalahkan oleh Amerika. Dan, bandara yang dibangun Jepang itu dikuasai serta diperluas.

“Lapangan terbang itu juga dikenal sebagai Hollandia Drome. Hollandia, jadi target khusus Jenderal MacArthur panglima Amerika di Asia-Pasifik. Ia ingin menjadikan Hollandia sebagai titik tolak menyergap Jepang, ” ucapnya.

Singkat cerita, usai mengusir Jepang, Hari mengatakan, Jenderal Douglas MacArthur mendirikan markas besarnya di Jayapura. Dari Ifar Gunung Sentani, MacArthur merencanakan serangan balik ke Filipina dengan strategi lompat katak.