4 Bulan Jadi Tersangka Kasus Jiwasraya, Pejabat OJK Fakhri Hilmi Ditahan

Jakarta semrawut

Kejaksaan Agung (Kejagung) menahan Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal II a Otoritas Bantuan Keuangan (OJK) periode Januari 2014-2017, Fakhri Hilmi. Fakhri diketahui sudah ditetapkan tersangka dalam perkara perkiraan korupsi Jiwasraya sejak Juni berserakan.

“Perkembangan terhadap pemeriksaan perkara dugaan pidana korupsi terkait Jiwasraya atas nama tersangka FH setelah dilakukan penetapan tersangka terhadap yang bersangkutan, maka setelah dikerjakan serangkaian tindak penyidikan, baik itu pemeriksaan alat bukti terhadap saksi ahli, alat bukti yang lain, baik itu petunjuk, keterangan simpulan maka pada hari ini kepada tersangka FH juga akan dilakukan penahanan, ” kata Kapuspenkum Kejagung, Hari Setiyono kepada wartawan pada Gedung Bundar, Jampidsus Kejagung, Jalan Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (12/10/2020).

Hari mengatakan Fakhri Hilmi ditahan di Rumah Tahanan Salemba Bagian Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Fakhri Hilmi akan ditahan selama 20 hari terhitung mulai hari ini.

“Dengan jenis penahanan rutan dan akan ditempatkan di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, ” tutur Hari.

Hari tak menjelaskan rinci alasan mengapa pejabat OJK itu baru ditahan setelah menyandang kedudukan tersangka selama 4 bulan. Taat Hari, hal itu merupakan benar objektif dan subjektif dari pemeriksa.

“Tentu itu tersedia hak objektif subjektif dari penyidik dan sekarang untuk menghindari yang bersangkutan kabur, atau mengulangi perbuatannya, ” ucap Hari.

Diketahui, Kejaksaan Agung telah menetapkan seorang tersangka baru serta 13 korporasi sebagai tersangka dalam susunan kasus Jiwasraya. Tersangka anyar tersebut disebut merupakan Fakhri Hilmi dengan merupakan pejabat di Otoritas Uluran tangan Keuangan (OJK).

“Satu orang tersangka dari OJK, berasaskan nama FH, bilamana itu dengan bersangkutan menjabat sebagai Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal II a periode Januari 2014-2017. Kemudian yang bersangkutan diangkat sebagai Deputi Komisioner Pengawasan Pasar Modal II era 2017-sekarang, ” kata Kepala Was-was Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Hari Setiyono, kepada wartawan di Gedung Bundar, Jalan Sultan Hasanudin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (25/6).

Hari menyebut kedudukan tersangka FH dikaitkan dengan tugas dan tanggung jawab jabatannya dalam dalam pengelolaan keuangan kepada PT Jiwasraya. Hal ini juga bersentuhan dengan para terdakwa yang telah disidangkan.

“Tentu kedudukan dari tersangka ini dikaitkan dengan tugas dan tanggung jawabnya pada jabatan itu dalam pengelolaan keuangan yang dilakukan di PT Asuransi Jiwasraya, termasuk perbuatan yang dikerjakan para terdakwa yang sudah disidangkan dalam mengelola keuangan PT Asuransi Jiwasraya, ” ucap Hari.

Selain itu, penyidik Kejagung menetapkan 13 korporasi sebagai tersangka dalam kasus Jiwasraya. Hari membicarakan ke-13 korporasi disebut sebagai eksekutif investasi.

“Penetapan simpulan tersebut yang pertama terhadap 13 korporasi atau di dalam sistem OJK disebut manajer investasi jadi ada 13 korporasi, ” katanya.

Hari menyebutkan ke-13 korporasi itu adalah:

1. PT DN/PT PAJ
2. PT OMI
3. PT TPI
4. PT MD
5. PT PAM
6. PT MNCA
7. PT MAM
8. PT GAPC
9. PT JCAM
10. PT PAAM
11. PT CC
12. PT TFI
13. PT SAM

Keadaan mengatakan tersangka FH dan 13 manajer investasi tersebut disangkakan melayani tindak pidana pasal 2 subsider pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Cetakan 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi.

“Jadi 13 manajer investasi ini diduga melakukan tindak pidana Pasal dua subsider Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang tipikor, ” kata Hari.

Hari menyebut kerugian negara akibat 13 korporasi ini diduga sebesar Rp 12, 157 triliun. Kerugian ini bagian dari seluruh keseluruhan perhitungan kerugian negara yang dirilis oleh BPK beberapa masa yang lalu.

“Kerugiannya diduga sekitar Rp 12, 157 triliun. Kerugian ini merupakan periode dari perhitungan keuangan negara oleh BPK sebesar Rp 16, 81 triliun, ” katanya.

(eva/eva)